Cari Tahu Lebih Jauh Timeline Kemayu untuk Emansipasi

Lihat Timeline




Kemayu untuk Emansipasi

Dalam budaya masyarakat Jawa , wanita itu harus kemayu, sebuah sikap kemayu yang lain dengan sikap "menthel". Kemayu juga bisa berarti mengayukan diri se-ayu-ayu-nya, menampilkan semaksimal mungkin sosok wanita dengan kualitas dan kuantitas tertinggi dari sifat-sifat alami seorang wanita. Beda dengan menthel, kemayu jenis negatif yang identik dengan genit yang lebih berkesan liar atau norak.

Gandes, Kenes, Luwes adalah tiga sifat utama yang menyokong ke-kemayu-an wanita Jawa. 

Gandes

Gandes berarti anggun. Wanita yang anggun itu bukan sekedar cantik, namun bisa memaksimalkan sisi-sisi keindahan wanita dalam tampilan seindah-indahnya.  Untuk menjadi anggun, wanita-wanita harus bisa merias dan merawat tubuhnya.  Merias wajah adalah ketrampilan dasar wanita yang tidak hanya untuk menambah elok penampilan, tapi juga bisa menambah rasa percaya diri. Selain wajah, ada banyak tradisi jawa untuk merawat tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ramuan-ramuan untuk merawat rambut, lulur dan masker rempah untuk menghaluskan kulit, jamu-jamuan untuk menambah kesegaran tubuh, aroma mewangian ratus untuk memberikan semerbak harum di tubuh, semuanya telah menjadi bagian hidup wanita Jawa sejak zaman dahulu. Selain keindahan fisik, penampilan dalam berbusana, bertutur kata dan gerak tubuh/gesture juga sangat diperhatikan dalam konsepsi wanita yang Gandes.

Kenes

Kenes mempunyai arti lincah dan menawan hati. Setelah seorang wanita bisa memaksimalkan potensi fisik mereka melalui merias dan merawat diri, tahap berikutnya adalah tentang cara memancarkan aura keindahan sejati dari seorang wanita. Dalam tataran masa kini, kata kenes bisa dipahami dengan mudah sebagai inner beauty dan inner sensuality. Cantik tidak cuma ditampilan luar, tapi wanita hendaknya membekali diri dengan berbagai pengetahuan tentang berbagai bidang kehidupan. Intelektualitas adalah hal yang penting yang membuat wanita merasa lebih percaya diri dan rasa percaya diri adalah separuh dari modal yang diperlukan wanita untuk bisa memunculkan aura sexy. Pada masa lalu, wanita-wanita Jawa mengolah intelektualitasnya dengan menimba ilmu di sekolah formal dan keilmuwan non formal yang didapat dari mempelajari filosofi tari jawa, filosofi batik, gending dan tembang macapat. Di zaman sekarang, saluran-saluran untuk menimba ilmu dan pengetahuan semakin lebih banyak dan sangat mudah di-akses, sehingga harusnya wanita seakarang ini makin bisa memperkaya pengetahuannya agar bisa cantik fisik maupun pikir. 

Luwes

Luwes mempunyai arti pantas, elok, tidak kaku; tidak canggung. Ketidakcanggungan ini mempunyai makna bahwa wanita harus berkemampuan bagus (skillful) sehingga tampak elok dan selaras saat mereka sedang mengerjakan aktifitas kesehariannya. Kemampuan yang bagus ini berlaku di ranah domestik seperti mamasak, mengurus rumah, mempercantik rumah, mengurus anak-anak, juga pada hal-hal yang dilakukan di luar rumah, saat wanita tampil dalam profesi dan karirnya masing-masing. Pada zaman dulu, keluwesan wanita terlihat dalam ketrampilannya menari, membuat batik, meracik jamu, dll. Pada masa sekarang, luwes bisa diterapkan dalam berbagai bidang kehidupan yang makin beragam.

Tiga konsep di atas menciptakan sosok wanita cantik sekaligus kuat, bukan hanya wanita yang pasif dan terkungkung perintah lelaki. Wanita yang berupaya menjadi wanita sepenuhnya justru mempunyai kekuatan tersendiri sehingga tidak dipandang sebatas hanya bisa macak, masak dan manak. Konsep kemayu didudukkan sejajar dengan konsep lelaki sejati dalam ranah budaya jawa (Curigo, Wismo, Turonggo & Kukilo), dalam tataran beda tugas, bukan beda level. Curigo berarti keris, seorang lelaki hendaknya mempunyai kesaktian, atau dimasa kini diterjemahkan sebagai keahlian yang spesifik. Wismo berarti rumah, hendaknya lelaki punya sifat-sifat yang melindungi dan mengayomi. Turonggo adalah kuda, lelaki hendaknya punya tunggangan untuk mencapai tujuan hidup, punya profesi/karier yang bagus untuk mencapai visi hidupnya. Kukilo artinya burung yang dalam masyarakat jawa berarti kegemaran atau klangenan, lelaki hendaknya punya hobi-hobi positif yang menunjang sifat altruistik dalam dirinya.

Seperti terlukis dalam patung loro-blonyo, atau lingga yoni di candi-candi kuno, pria dan wanita adalah partner yang saling melengkapi menjadi satu lambang kesuburan dan terciptanya anugrah alam atas bentuk-bentuk kehidupan yang baru. Emansipasi bukan menjauhkan sifat-sifat alami wanita, tapi memaksimalkan potensi wanita agar semakin me-wanita secara maksimal. Di situlah muncul bargaining power terhadap laki-laki dan terhadap dunia pada umumnya. Tanyalah pada para Mbokmase yang menguasai Kauman, Laweyan dan Klewer tentang arti menjadi wanita, wanita seutuhnya yang benar-benar punya bargaining power.

(teks : Stefanus Ajie/Kratonpedia.com) 





Stefanus Ajie
21 Apr 2015




Recent Articles

Arsitektur
Kabupaten Klaten
Kabupaten Klaten , terletak ditengah-tengah antara kota Solo dan Yogyakarta , merupakan jalur strategis yang pertumbuha


Arsitektur
Pasar Klewer
Pasar Klewer , pusat grosir batik Solo dan pasar tekstil yang mempunyai pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia dan


Tradisi
Pasar Gawok
Pasar Gawok , pasar tradisional ini terletak di Kabupaten Sukoharjo dengan keunikan adanya para pande besi yang membuat