Cari Tahu Lebih Jauh Timeline Nikmatnya Secangkir Teh Kemuning

Lihat Timeline




Nikmatnya Secangkir Teh Kemuning

8._saatnya_menyajikan.jpg

Teh merupakan jenis minuman yang sudah sangat akrab dikeseharian masyarakat negeri ini. Hampir disetiap kesempatan dan di berbagai tempat, sajian minuman teh bisa dipastikan selalu ada. Tempat-tempat makan dari sekelas warung hingga restaurant, selalu menyediakan teh sebagai minuman pendamping hidangan. Teh juga hadir sebagai minuman yang pantas disajikan untuk menyambut tamu, baik untuk tamu pribadi maupun tamu-tamu dalam hajatan penting seperti upacara perkawinan, kelahiran dan acara-acara penting lainnya.

Tradisi minum teh diketahui muncul dari Negeri Cina yaitu dimasa Kaisar Shen Nun, pada tahun 2737 Sebelum Masehi.  Teh dikenal juga oleh masyarakat Jepang melalui para Rahib Budha yang melakukan perjalanan ke Negeri China. Melalui jalur pertukaran budaya yang muncul dari proses perdagangan, teh masuk ke Eropa dan menjadi sajian minuman mewah dikalangan para bangsawan. Saat Belanda mulai menguasai wilayah-wilayah Nusantara di awal abad ke 19, mereka mulai membuka perkebunan teh di beberapa tempat. Salah satu perkebunan teh yang masih digarap hingga sekarang adalah kebun teh yang terletak di daerah Kemuning, Karanganyar, Jawa Tengah.

1._Pemandangan_di_Kebun_Teh_Kemuning.jpg  Pemandangan di Kebun Teh Kemuning

Kemuning merupakan area perbukitan di lereng Gunung Lawu yang berada di ketinggian 1200 m, terletak sekitar 40 Km dari Kota Solo. Memasuki wilayah Kemuning, maka mata akan dimanjakan dengan keelokan pemandangan alam yang ada di sana. Sejauh mata memandang tampaklah hamparan bukit-bukit dan lembah menghijau diselimuti oleh ribuan hektar tanaman teh. Jalanan berkelok-kelok dengan tanjakan dan turunan tajam membelah area perbukitan tersebut. Udara dingin dan berkabut, dengan semilir anginnya yang sejuk akan menyambut mereka yang berkunjung kesana.

2._Menuju_ke_Perkebunan_Teh.jpg  Menuju ke Perkebunan Teh

Di antara rimbun dedaunan teh yang menghampar di perbukitkan Kemuning, tampak beberapa wanita sedang sibuk memetiki pucuk-pucuk daun teh di sana. Caping, jas hujan dari plastik sederhana, keranjang-keranjang besar menjadi perlengkapan mereka. Para wanita itu bekerja secara berkelompok, berjalan naik turun di antara lembah dan bukit, mengumpulkan pucuk daun teh satu persatu dengan tangan mereka. Jika keranjang sudah penuh, mereka mengumpulkan daun-daun teh hasil petikannya dipinggir jalan, dan menanti truk yang akan datang untuk mengangkut daun-daun teh tersebut. Daun-daun teh ditimbang secara bergiliran untuk mengetahui berapa banyak hasil kerja mereka hari itu. Untuk 1 kg daun teh yang dipetik, mereka mendapatkan upah sebesar Rp 300. Satu keranjang besar yang mereka bawa dari dalam aera perkebunan, bisa memuat sekitar 10 -15 kg daun teh. Dalam sehari biasanya wanita-wanita tersebut bisa menyetorkan 2 keranjang besar.

3._Memetik_pucuk_pucuk_daun_Teh.jpg  Memetik pucuk-pucuk daun Teh

Truk membawa daun-daun teh tersebut ke pabrik pengeringan dan pengolahan teh yang tak jauh dari area perkebunan. Daun-daun teh mulai diproses dengan dipotong menjadi bagian yang lebih kecil, dikeringkan dan difermentasikan sesuai dengan kebutuhan. Hasil olahannya menghasilkan  tiga jenis produk teh yaitu Teh Hitam, Teh Hijau dan Teh Oolong. Perbedaan utama dari tiga jenis teh tersebut adalah pada proses fermentasinya,  dimana pada teh hitam, daun teh mengalami perubahan kimiawi sempurna sehingga hampir semua kandungan catechin terfementasi menjadi teaflavin dan tearubigin, pada teh hijau hal tersebut tidak terjadi  atau sengaja dihentikan, sedangkan teh oolong hanya mengalami setengah proses fermentasi dan mengandung zat antioksidan yang tinggi. Ketiga jenis teh tersebut mempunyai keunikan cita rasa masing-masing dan mempunyai khasiat yang berbeda bagi para penikmatnya.

4._Mengumpulkan_hasil_petikan.jpg  Mengumpulkan hasil petikan

Melalui jalur distribusi yang panjang, maka produk teh yang sudah jadi tersebut kembali ke Kemuning dalam kemasan yang siap sedu. Daun-daun Teh hasil dari para wanita pemetik teh tersebut kembali ke daerah asalnya dalam bentuk sajian minuman hangat yang menyegarkan. Secangkir teh baik yang tersaji di warung-warung maupun di rumah makan yang banyak terdapat di Kemuning, mempunyai kisah perjalanan panjang sebelum hadir tersaji disana. Pemandangan indah dari hamparan hijau daun-daun teh di Bukit Kemuning yang segar untuk dinikmati mata, kini hadir dalam secangkir minuman hangat yang sangat cocok untuk dinikmati diantara dinginnya udara pegunungan Kemuning.

5._Daun_daun_teh_siap_diangkut.jpg  Daun-daun teh siap diangkut

6._Berat_Ringan_timbangan_daun_teh__menentukan_uang_yang_didapat_hari_itu.jpg  Berat ringan timbangan daun teh, menentukan uang yang didapat perhari

7._Daun_teh_kering_siap_untuk_disedu.jpg  Daun teh kering siap untuk disedu

9._Secangkir_teh_hangat_di_kesejukan_udara_Kemuning.jpg  Secangkir teh hangat di kesejukan udara Kemuning

(teks dan foto : Stefanus Ajie/Kratonpedia)





Stefanus Ajie
30 Dec 2012




Recent Articles

Arsitektur
Kabupaten Klaten
Kabupaten Klaten , terletak ditengah-tengah antara kota Solo dan Yogyakarta , merupakan jalur strategis yang pertumbuha


Arsitektur
Pasar Klewer
Pasar Klewer , pusat grosir batik Solo dan pasar tekstil yang mempunyai pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia dan


Tradisi
Pasar Gawok
Pasar Gawok , pasar tradisional ini terletak di Kabupaten Sukoharjo dengan keunikan adanya para pande besi yang membuat