Cari Tahu Lebih Jauh Timeline Berkah Dari Dusun Cetho

Lihat Timeline




Berkah Dari Dusun Cetho

Simbol_Majapahit.jpg

Dusun Cetho merupakan hamparan perbukitan  yang berjarak kurang lebih 50 km ke arah timur dari kota Solo, dan membutuhkan waktu tempuh sekitar dua jam perjalanan darat untuk sampai ke lokasi. Untuk mencapai lokasi desa ini memang belum tersedia angkutan umum selain mobil bak terbuka yang mengangkut hasil bumi. Selain menggunakan kendaraan pribadi, jasa sewa mobil yang berada di daerah Solo dan sekitarnya atau jasa ojek dari kawasan wisata Tawangmangu Karanganyar bisa menjadi pilihan. Di puncak dusun ini berdiri kokoh sebuah candi yang dikenal dengan nama candi Cetho yang bercorak Hindu peninggalan masa akhir pemerintahan Majapahit. Letak candi Cetho berdekatan dengan candi Sukuh di wilayah  desa Gumeng Kecamatan Jenawi Kabupaten Karanganyar pada ketinggian 1400 m diatas permukaan laut. 

Perkebunan_teh_yang_menghijaukan_perbukitan_dusun_Cetho.jpg   Perkebunan teh yang menghijaukan perbukitan dusun Cetho 

Di sepanjang jalan menuju dusun Cetho bisa ditemui beberapa warung-warung persinggahan untuk rehat sejenak sebelum mencapai lokasi candi, dan di lokasi ini bisa menikmati jajanan ringan seperti ojek baso atau baso yang dijajakan menggunakan motor, lalu ada sate baso dan teh jewos yang berwarna pekat , atau sekedar  berfoto dengan latar belakang kebun teh yang diselimuti kabut dingin. Jalan menuju lokasi candi yang berada di puncak gunung dengan dikelilingi hamparan kebun teh yang “ijo royo-royo” ini sangat menanjak dan berkelok-kelok layaknya permainan seluncur yang merangsang adrenalin. Gerbang masuk kawasan candi Cetho sangat sederhana, bahkan tidak ada gapura atau tanda yang  mencolok kecuali loket kecil dan dua petugas jaga yang akan menarik tiket masuk seharga Rp.5.000 untuk kendaraan roda empat dan Rp.2.500 untuk roda dua.

Rp.5000_untuk_tiket_masuk_roda_empat.jpg Rp.5000 untuk tiket masuk kendaraan roda empat ke kawasan dusun Cetho

Lokasi yang cukup tinggi di atas permukaan laut membuat hawa sejuk dan terkadang dingin yang cukup mencekat mencapai 18 derajat celcius membuat   tempat ini menjadi pilihan favorit untuk berwisata bagi masyarakat dari luar Kabupaten Karanganyar maupun beberapa dari luar negeri.

Setelah sampai di lokasi candi, saat menapaki anak tangga terakhir dan memasuki beranda candi Cetho, seolah ada penyambutan dari sosok patung yang agak unik dengan bentuk seolah bersimpuh tanpa daya, dan uniknya wujud fisik patung batu tersebut bukanlah bentuk “perwajahan” masyarakat Jawa.

Pahatan pada bentuk dan relief batuan pada candi Cetho tergolong masih sederhana yang menurut para ahli arkeologi konon merupakan ciri karya pada masa sebelum Majapahit, namun kenyataan berdasarkan data tahun pembuatan, candi ini merupakan komplek candi terakhir era Majapahit jauh setelah candi Prambanan dan Borobudur berdiri. Tapi terlepas dari itu , simbol-simbol ini telah meninggalkan cerita kejayaan Nusantara ribuan tahun lalu.

Saat mencapai gerbang utama menuju candi Cetho, terdapat tangga batu yang menjulang tinggi seolah mencapai langit, dan jika berhenti sejenak dan menengok ke arah pandang sebelah kanan, terlihat sebuah rumah  yang tidak begitu mirip dengan sebuah warung makan. Namun di rumah ini tinggalah seorang laki-laki berumur 40 tahunan yang akrab dipanggil pak Kledun, seorang penduduk asli dusun Cetho yang siap menyambut peziarah, begitulah penduduk lokal sering menyebut para pengunjung candi dengan sebutan tersebut. Pak Kledun menjadikan rumahnya sebagai warung dengan menu unggulan sate kelinci yang merupakan makanan khas dari dusun Cetho dengan rasanya yang  mantap.

Selain itu, beberapa pedagang sate kelinci di sekitar candi ini sering mendapat pesanan khusus untuk menyediakan kambing atau kerbau untuk ritual bagi beberapa orang dengan jumlah beragam mulai dari satu sampai empat ekor kambing atau bahkan satu ekor kerbau tergantung dari niat dan nazarnya, yang kebanyakan dari kalangan pejabat dan pengusaha. Ini merupakan bentuk ritual penghormatan kepada leluhur dan rasa syukur kepada Gusti Allah atas semuanya”, demikian pak Kledun mencoba untuk menjelaskan alasannya.

Masyarakat sekitar candi Cetho mayoritas petani sayur dan buruh perkebunan teh, dan pemandangan kaum perempuan dusun berkulit coklat kemerahan dengan sepatu boot di sepanjang jalan maupun sekitar lokasi candi menjadi hal biasa yang akan sering ditemui di daerah tersebut.  Dusun Cetho dengan berbagai keunikan dan kehidupan masyarakatnya yang sederhana, serta didukung hawa dingin pegunungan merupakan salah satu daya tarik yang menjadikan desa ini sering didatangi wisatawan, selain tujuan utama melihat keindahan candi Cetho tentunya. Fasilitas penginapan juga tersedia di daerah ini, meskipun sederhana sekelas losmen atau hotel melati, tapi lokasinya strategis dekat dengan area parkir sebelum memasuki kawasan obyek candi.

Warisan budaya yang berada di puncak bukit dusun Cetho tersebut menjadi berkah dari Gusti Allah yang akan terus mereka jaga, begitulah masyarakat desa meyakininya dan terus berusaha menjaga dengan kreatifitas agar senantiasa mendatangkan kemakmuran untuk desa dan siapapun yang ikut merawatnya. Hal tersebut lebih terasa bagi beberapa warga yang menggantungkan rejeki dari sektor pariwisata di kawasan ini. Hingga apa yang mereka sebut sebagai berkah yang berlimpah dari jaman ke jaman khususnya untuk masyarakat dusun Cetho ini bisa terus membuka pintu rejeki dari berbagai usaha kecil yang memfasilitasi pengunjung atau sering mereka sebut peziarah.

Pondok_baso_dan_teh_lokal_yang_nyaman_untuk_istirahat.jpg   Pondok baso dan teh lokal yang nyaman untuk istirahat

Bangunan_warung_dan_penginapan_sederhana_berjejer_di_pinggiran_jalan_yang_curam.jpg   Bangunan warung dan penginapan sederhana berjejer di pinggiran jalan yang curam 

Perempuan_dusun_Cetho.jpg   Perempuan dusun Cetho 

Daging_kelinci_segar_hasil_ternal_desa_Cetho.jpg   Daging kelinci segar hasil ternak warga desa Cetho

Bakaran_sate_kelinci.jpg   Sate kelinci pak Kledun yang menjadikan rumahnya sebagai warung di samping gerbang candi 

Anak_tangga_yang_berujung_kabut.jpg   Anak tangga yang berujung kabut 

Gapura_pintu_masuk_dari_batuan.jpg   Gerbang batu kawasan candi Cetho

Patung_batu_bersimpuh.jpg   Patung batu bersimpuh seolah sambut para peziarah candi

(teks dan foto : Wd Asmara/Kratonpedia)





Wd Asmara
01 Oct 2012




Recent Articles

Arsitektur
Kabupaten Klaten
Kabupaten Klaten , terletak ditengah-tengah antara kota Solo dan Yogyakarta , merupakan jalur strategis yang pertumbuha


Arsitektur
Pasar Klewer
Pasar Klewer , pusat grosir batik Solo dan pasar tekstil yang mempunyai pelanggan dari berbagai daerah di Indonesia dan


Tradisi
Pasar Gawok
Pasar Gawok , pasar tradisional ini terletak di Kabupaten Sukoharjo dengan keunikan adanya para pande besi yang membuat